Film komedi horor Agak Laen kembali mencatatkan prestasi gemilang di industri perfilman Indonesia. Setelah tayang di bioskop nasional, film garapan rumah produksi Imajinari ini resmi menembus angka 9 juta penonton. Capaian tersebut menempatkan Agak Laen sebagai salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa, sekaligus menegaskan kuatnya daya tarik komedi segar yang dibalut dengan sentuhan horor ringan.
Disutradarai oleh Muhadkly Acho, Agak Laen mengusung cerita tentang empat sahabat—Bene, Boris, Jegel, dan Oki—yang mengelola sebuah rumah hantu di pasar malam. Alih-alih menghadirkan teror menakutkan, film ini justru memancing tawa lewat dialog absurd, situasi kocak, dan interaksi khas para komika yang sudah dikenal publik. Ketika sebuah insiden tak terduga terjadi di wahana tersebut, kekacauan pun dimulai dan membawa penonton pada rangkaian kejadian yang tak terduga.
Keberhasilan Agak Laen tak lepas dari chemistry kuat para pemain utamanya yang berasal dari latar belakang stand-up comedy. Humor yang disajikan terasa dekat dengan keseharian penonton, penuh celetukan spontan dan sindiran sosial yang ringan namun mengena. Istilah populer “menyala” yang sering digunakan warganet pun melekat pada film ini, mencerminkan antusiasme penonton yang terus meningkat dari hari ke hari sejak penayangan perdana.
Selain faktor pemain, kekuatan cerita yang sederhana namun efektif menjadi kunci. Agak Laen tidak berusaha menjadi film horor yang menakutkan, melainkan fokus pada hiburan yang jujur dan mengalir. Pendekatan ini membuat film tersebut ramah ditonton berbagai kalangan, dari remaja hingga keluarga, sehingga jangkauan penontonnya semakin luas.
Dari sisi industri, tembusnya 9 juta penonton menjadi sinyal positif bagi perfilman Indonesia pascapandemi. Bioskop kembali ramai, dan film lokal menunjukkan kemampuan bersaing dengan film-film impor. Keberhasilan ini juga membuka peluang lebih besar bagi genre komedi untuk terus bereksperimen dan berkembang, tanpa harus terjebak pada formula lama.
Respons di media sosial turut memperkuat pencapaian Agak Laen. Potongan adegan, kutipan dialog, hingga meme beredar luas dan menciptakan efek promosi organik. Banyak penonton mengaku menonton lebih dari sekali, bahkan mengajak teman dan keluarga untuk ikut merasakan pengalaman menonton yang “agak lain” dari biasanya. bolaqiuqiu
Dengan torehan 9 juta penonton, Agak Laen bukan hanya sebuah film sukses secara komersial, tetapi juga fenomena budaya pop. Capaian ini menjadi bukti bahwa kreativitas, keberanian bereksperimen, dan kedekatan dengan selera penonton adalah kombinasi ampuh. Agak Laen pun menutup babaknya di bioskop dengan satu pesan jelas: film Indonesia sedang menyala.